Recording drums merupakan hal yang paling challenging buat saya!
Berbeda dengan recording instrument lain, recording drums termasuk yang paling rumit & tricky karena melibatkan banyak sekali sumber suara yang bervariatif dari frequency sub-low hingga high-frequency.
Banyak engineer berpendapat bahwa recording drums adalah hal yang paling sulit dalam dunia recording, karena walaupun source-nya banyak dan beraneka ragam, tapi kita sebagai engineer harus memperlakukan-nya sebagai satu kesatuan instrument. Artinya, kesaragaman tonalitas dan pemilihan mic yang tepat pun sangat penting untuk diperhatikan
Pada album ini, kami menggunakan Drums :
DRUMS: Pearl Master Custom
SNARE : Pearl Virgil Donati Signature
Tom Head/Skin : Evans G2 – Coated
Kick Head/Skin : Evans EMAD batter & EQ3 Resonant
Cymbals : Sabian HHX
TUNNING
Dalam recording drums, hal terpenting bagi saya bukanlah microphones, bukan pre-amps, bukan mic positioning, bukan akustik ruangan,… melainkan TUNING!!
Percuma kita menggunakan mic bagus, pre-amp mahal, studio mewah, jika SOURCE (Drums) berbunyi ngawur dan ga Tune.
Tunning drum yang baik juga akan sangat memudahkan kita pada proses produksi selanjutnya yaitu saat mixing, contohnya: suara resonant snare yang salah (contohnya “wolftone” — istilah Danang) karena salah tuning, ga perlu kita buangin setengah mati saat mixing ☺
Bersyukur sekali dalam album ini kita dapet drummer muda yang very talented, rapih dalam bermain, dan tau “how to tune the drums”, Echa Soemantri.
Kebetulan dia juga memiliki perfect pitch (kemampuan mengetahui not dari setiap suara yang didengar) dan itu sangat membantu saya untuk mendapatkan sound yang maksimal saat recording.
Pada session pertama, kita menghabiskan hampir setengah session hanya untuk TUNING!!
Kendala pertama yang dihadapi adalah skin dari toms yang udah ga begitu bagus (hampir mati), sehingga TONE yang dihasilkan pun gak begitu keluar sempurna, dan agak menyulitkan saat Tuning. Sempet terpikir untuk ganti skin, tapi waktu tidak memungkinkan, karena saat skin diganti, pastinya ada waktu yang diperluan untuk membuat skin itu break-in (biasanya dengan cara di injek-injek / ditekan, dsb) hingga skin layak digunakan. Sayangnya kita ga punya waktu untuk itu.
Skin toms yang terpasang adalah EVAN G2 – COATED SKIN(skin yg berwarna putih susu).
Sekedar informasi, perbedaan COATED SKIN dan CLEAR SKIN adalah terletak pada sustain-nya.
COATED SKIN biasanya tidak memiliki sustain sepanjang CLEAR SKIN, karena itu biasanya Coated skin suaranya lebih tight!!
Selain itu CLEAR SKIN juga lebih “Attack” dibandingkan COATED SKIN.
SNARE, TOMS, FLOOR, dan KICK pada umumnya memiliki 2 skins (atas & bawah)
1. Batter head skin (atas) : berpengaruh terhadap “attack” dan initial pitch
2. Resonant head skin (bawah) : berpengaruh terhadap “overall pitch” dan sustain.
Tiap drum kit (Kick, Snare, dan Toms ) memiliki ukuran & materi bahan yang berbeda-beda, dan artinya tiap ukuran & materi memiliki resonan bunyi nada yang berbeda-beda pula.
Ada beberapa Snare yang memiliki resonan bunyi dengan badwidth yang lebar, artinya SNARE bisa ditune dari nada rendah sampai nada tinggi dan tetap menghasilkan Tone yang sempurna.
Salah satu contoh-nya adalah YAMAHA Dave Weckl Signature Series.
Namun biasanya kita pun menyesuaikan nada SNARE & TOMS dengan chord/melody dari lagu yang dimainkan. Hal simple ini sangat berpengaruh terhadap hasil akhir produksi musik kita. Suara SNARE akan lebih “sit in the mix”.
Dalam album ini, kita pun merubah 2 – 3 kali tunning Snare untuk disesuaikan pada nada dasar lagu. Coba dengar.. Tone snare pada lagu INGATLAH DIRIKU berbeda dengan tone snare di lagu Masihkah Dirimu. ☺
Tuning Toms pun biasanya mengikuti nada dari SNARE. Ini biasanya disebut TUNNING INTERVAL. (pernah dibahas disini : [Klik Link ini]
MICROPHONES & PRE-AMP
Ini adalah pre-amps yang digunakan dalam recording ini.
Alesan dibalik pemilihan pre-amp & mic diatas adalah:
API 3124+ : Pre-amp yang paling “PUNCH” & “ATTACK” yang pernah saya denger, karena itu pre-amp ini sangat cocok untuk percussive instrument yang membutuh “attack”: seperti Kick, Toms, dan snare.
Namun dalam kesempatan ini, kita menggunakan pre-amp Chandler Limited TG-2 untuk SNARE, karena gain di API sangat hot sehingga signal dari snare selalu over / peak (walaupun di pre-amp sudah di-pad).
Kharakter dari TG-2 ini juga dirasa lebih cocok untuk jenis snare ini. Suara snare jadi lebih “TEBEL”!! Love the color of TG-2!! ☺
Untuk Hi-Hat & Ride menggunakan pre-amp dari Rupert Neve Portico 5012. Alasannya adalah karena pre-amp ini memiliki kharakter HIGH yang halus.. cocok banget untuk high freq instrument seperti hi-hat, supaya suara ga terlalu tajem nusuk di kuping. Mic-nya pun menggunakan Ribbon mic.
Alesan utama dibalik pemilihan RIBBON mic disbanding CONDENSER MIC adalah karena CONDENSER mic kadang mengcapture TRANSIENT yang over sedangkan RIBBON MIC tidak menangkap TRANSIENT secepat CONDENSER MIC, sehingga suara yg dihasilkan oleh RIBBON lebih NATURAL & adem di kuping.
Untuk lebih jelasnya, cobalah merekam suara kunci (mengandung banyak transient) dengan menggunakan kedua mic tersebut (RIBBON & CONDENSER).
Inilah contoh audio-nya:
- CONDENSER mic : [Klik Link ini] atau
condenser_c42.wav- RIBBON mic : [Klik Link ini] atau
ribbon.wavSeperti yang kalian denger diatas, suara transient yang ditangkap oleh RIBBON mic terdengar jauh lebih natural dan ga menusuk kuping dibanding dengan CONDENSER mic.
Dan ini akan sangat terasa waktu kita merekam HIGH-freq instrument yang banyak transient-nya (seperti Hi-Hat dan OVERHEAD).
Suara cymbal dari overhead yang menggunakan CONDENSER biasanya berbunyi “wuisssszz…wuiiisss..wuiiiss…” tajam dan sliweran, sedangkan jika menggunakan RIBBON suaranya akan lebih adem seperti “dezz..dezz..dezz..” dengan sustain yang lebih pendek.
Hasilnya,… dengan Ribbon mic, sound drum menjadi lebih TIGHT!!!
MIC POSITIONING
KICK
Untuk kick, kita menggunakan 2 microphones (dalam & luar).
Seperti biasa AKG D112 ditaruh di dalam, untuk meng-capture “attack” dari batter dengan baik. R92 (ribbon mic) ditaruh di luar untuk meng-capture sub low. Sebetulnya R92 ini bukanlah mic ideal untuk aplikasi ini karna ribbon mic sangat sensitive terhadap hembusan angin. Namun, karna kebetulan stock mic habis, jadi kita menggunakan mic ini. Mic-nya pun tidak ditaruh pas di lubang, tapi ditengah skin.
Hal terpenting yang harus diperhatikan saat mic-ing menggunakan 2 mic ini adalah PHASE (korelasi antara kedua mic). Saat mendapatkan posisi yang dirasa enak (In-PHASE), coba lakukan check PHASE, dengan cara membalik phase dari salah satu mic. Jika suaranya jadi aneh / lemah / low-nya ilang (Out-of-Phase), berarti posisi mic kita (sebelum di balik phase-nya) sudah betul.
SNARE
Untuk snare kita menggunakan 3mic (2 diatas, dan 1 dibawah). Untuk mic atas kita menggunakan Josephson C42 untuk mendapatkan “attack” & “snappy” dari snare ; Heil PR20 untuk mendapatkan “Body”.
Kedua mic tersebut kita ikat dgn selotip dengan posisi yang sama dan ditaruh dibawah hihat dengan kemiringan 45derajat menghadap ke pusat SNARE (berlawanan dengan hi-hat) untuk meminimalkan spil / bocoran dr hi-hat.
Sedangkan untuk bottom snare menggunakan dynamic mic dari BeyerDynamic M201. Pertimbangan kami menggunakan dynamic mic daripada condenser untuk Bottom snare, adalah supaya suara rattle yang terekam tidak terlalu tajam dan lebih natural. Tidak lupa juga kita membalikan PHASE untuk snare bawah karena arah penangkapannya yg berlawanan dengan microphones diatas)
TOMS
Toms pada session ini mendapatkan perlakuan istimewa, karena pak producer kita suka dengan Toms. hehe..
Tiap Tom menggunakan 2 mic (atas dan bawah).
Untuk atas, kita menggunakan Josephson e22s : mic ini sangat bagus dalam menangkap “attack” dan sangat mahal (mungkin ini mic termahal yg dipakai dalam session drum kami). Mic ini juga adalah mic favorite dari engineer Steve Albini.
Untuk TOM bawah, kita menggunakan Senheiseer MD421 (Phase –nya dibalik).
Untuk Floor, kita hanya menggunakan 1 mic yaitu senheisser MD421 (karena josephson e22s-nya cuma ada 2)
Posisi mic adalah 45derajat mengarah ke tengah skin.
Hi-Hat & Ride
Pemilihan Hi-hat pun sangat penting. Kebanyakan materi recording yang saya terima untuk mixing punya masalah di Hi-Hat yang terdengar murah dan bersuara sangat tajam seperti kaleng.
Dalam session ini kita menggunakan Hi-hat & cymbals dari sabian HHX. Kharakternya tebal & ga tajem. Kita pun menggunakan mic ribbon supaya transient-nya dapat terjaga dengan baik.
Posisi mic adalah sekitar 20cm diatas hi-hat bagian luar. Tujuannya adalah supaya mengurangi spil/bocorandari snare yang terhalang oleh hi-hat bagian dalam.
Ketinggian mic pun diatur supaya suara overall hi-hat dapet direkam dengan baik.
OVERHEAD
Mic positioning untuk OVERHEAD adalah hal yang PALING PENTING!!
Ini akan sangat berpengaruh terhadap overall sound drum.
Tujuan utama dari OVERHEAD ini adalah untuk mengcapture seluruh piece instruments (namun lebih menitikberatkan pada cymbals) dan untuk menyatukan semua individual mic lainnya supaya suara semuanya terdengar sebagai 1 kesatuan.
Untuk aplikasi ini, kita menggunakan mic AEA R84 yang sangat cocok banget buat Overhead.
Penempatan awal dimulai dengan mengikuti teknik dasar “3-to-1 Rule”
Bagi yang belum tau apa itu “3-to-1 rule” , adalah Posisi dasar penempatan 2 mic dimana jarak antara MIC 1 dengan MIC 2 haruslah 3x dari jarak antara salah satu mic terhadap instrument (drums). Formula ini dibuat untuk menghindari masalah Phase/comb filter.
Untuk lebih lengkapnya dapat kita diskusikan di thread baru.
Gambar “3-to-1 rule”
Setelah posisi dasar sudah kita pasang, kita pan mic 1 full kanan dan mic 2 full kiri.
Lalu meminta drummer untuk bermain dan kita atur lagi sedikit penempatannya (ketinggian dan letaknya) sampai image seluruh piece drum terdengar jelas di posisi nya masing-masing.
Kita pun akhirnya agak menggeser mic ke depan (mendekat ke arah cymbals) supaya mic lebih menangkap suara cymbals daripada suara instrument lainnya.
Pastikan juga snare terdengar disekitar CENTER / Tengah.
Saat posisi dirasa cukup, saatnya kita menge-check PHASE. dengan cara membalikan phase dari salah satu mic. (jika suara yang terdengar menjadi berat ke kiri/kanan (OUT of PHASE), maka artinya posisi kita tadi sudah betul)
Ruangan/akustik yang baik akan sangat berpengaruh pada track overhead ini. Kebetulan BROTHERLAND STUDIO berukuran tidak begitu besar (hanya sekitar 5×5) namun memiliki akustik treatment yang sangat baik (didesign oleh Atok Purnomo "atpc"). Seluruh diffusor dalam ruangan berfungsi baik, sehingga suara ruangan yang ter-capture oleh Overhead mic berkesan LEBIH BESAR dari actual ruangan. Menggelegar banget deh jadinya suaranya!!
Suara Snare pun jadi lebih "IMPACT" berkat dari track overhead yang meng-capture diffusion dari ruangan.
Inilah sample audio dari OVERHEAD : [Klik Link ini] atau
OH.wavCHECKING PHASE
Setelah puas dengan sound dari seluruh piece, saatnya kita mengecheck phase tiap piece terhadap overhead.
Caranya adalah:
1. Pan setiap individual track sesuai posisinya.
2. SOLO track Overhead (ini akan menjadi acuan bagi seluruh track lainnya)
3. Kemudian mulai dengan membuka track KICK dan check phase dengan cara membalikan phase di track kick. Apakah sound nya menjadi lebih tebal (terutama low-nya)?? Jika iya biarkan dengan keadaan Phase terbalik, jika tidak balikan lagi seperti semula.
4. Sesudah itu mute track KICK dan kita lanjutkan dengan SNARE, TOMS, dst satu persatu..
Banyak orang mengabaikan proses checking phase ini, padahal proses ini sangat berpengaruh terhadap overall sound yang dihasilkan. Sound akan menjadi jauh lebih TEBAL & PADAT jika seluruh phase sudah benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar