Selasa, 22 Maret 2011

Tattoo, Seni Atau Hanya sebuah Identitas Diri? Atau Justru Ungkapan Luapan Jiwa?





Tattoo adalah sebuah karya seni menghias bagian tubuh dengan gambar-gambar tertentu untuk membuat bagian tubuh tersebut tampak indah. Di beberapa daerah di dunia, seperti di Hawaii, India atau bahkan di Kalimantan, tattoo digunakan sebagai lambang atau penanda kedewasaan seseorang, terutama bagi kaum pria di daerah tersebut.
Namun sebagian masyarakat masih menilai bahwa tattoo selalu berhubungan dengan hal yang negatif. Meskipun banyak yang beropini tattoo adalah salah, karena bertentangan dengan norma agama tetapi dewasa ini semakin banyak masyarakat yang membuat tattoo, baik tattoo permanen maupun temporary. Bahkan, di kalangan selebriti, tattoo adalah sebuah trend, karena banyak sekali selebriti ber-tattoo saat ini.
Tattoo memang membutuhkan biaya relatif mahal untuk membuatnya, itu dikarenakan peralatan dan tinta tattoo sangat mahal juga. Selain dikarenakan alasan itu, dengan mahalnya membuat sebuah tatoo, masyarakat juga akan berpikir beberapa kali untuk membuat tattoo, karena tattoo permanen sulit untuk dihilangkan, meskipun mungkin, akan membutuhkan dana lebih banyak untuk ke spesialis kulit dan melakukan operasi laser untuk menghapus tattoo tersebut.
Jadi, untuk masyarakat yang ingin membuat tattoo permanen, dianjurkan untuk berpikir dua kali sebelum membuatnya.

Hukum Tatto
“Afwan, ana ingin pencerahan tentang hadits dalam kitab terjemahan Shahih Muslim, Dari Ibnu Umar ra katanya, ‘Bahwa Rasulullah SAW mengutuk orang yang menyambung rambut dan meminta rambutnya disambung, dan mengutuk pembuat tatto dan yang meminta tatto.’ Yang ingin ana tanyakan, untuk orang yang bertatto kemudian karena hidayah Allah sehingga ia ingin bertaubat, bagaimana dengan tatto yang telah ada ditubuhnya apakah harus dihilangkan walaupun dengan menyiksa dirinya?”
Menghilangkan Tatto
Syaikh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah menjawab pertanyaan yang sama, “Ketahuilah bahwa mentatto tubuh adalah haram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang menyambung rambut dan orang yang meminta rambutnya disambung, dan mengutuk orang yang mengerjakan tatto (pada orang lain) dan orang yang meminta tatto.
Jika seorang muslim melakukannya tanpa tahu bahwa itu adalah haram, atau terjadi padanya ketika dia masih kecil, maka dia harus menghilangkannya ketika dia telah tahu. Tapi jika menghilangkannya terlalu sulit atau dapat membahayakannya, maka cukuplah baginya untuk bertaubat dan meminta ampun, dan tidak menjadi masalah jika tanda (tatto) tersebut tinggal di tubuhnya.”
HUKUM TATO DI TUBUH
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya, “Apa hukum mentato bagian tubuh, apakah keberadaan tato tersebut merupakan halangan baginya untuk melaksanakan ibadah haji?”
Diharamkan mentato bagian tubuh, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya ia bersabda, “Dilaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang meminta untuk disambungkan rambutnya, wanita yang mentato dan wanita yang meminta untuk di tato.” Termasuk tato yang dilakukan di pipi, bibir dan tubuh lainnya, dengan mengubah warnanya menjadi biru, hijau atau hitam.
Bertato tidak menjadikan halangan untuk melaksanakan ibadah haji.

FENOMENA TATTO
Tattoo (baca : tatu) adalah sebuah seni merajah tubuh dengan berbagai macam tema, apakah itu gambar, simbol, tulisan-tulisan bahkan replika foto atau banyak lagi tema yang dituangkan pada bagian atas kulit tubuh untuk menjadi karya seni yang menurut si empunya tatto adalah sebuah sign kebanggaan atau peringatan bermakna. Dan si pembuat, menjadi suatu karya yang konon dipamerkan dan dikoleksi sebagai handicap menuju keterkenalannya.
Tattoo berasal dari bahasa Tahiti ”tatu” yang konon artinya tanda. Walaupun bukti-bukti sejarah tattoo ini tidak begitu banyak, tetapi para ahli mengambil kesimpulan bahwa seni tattoo ini udah ada sejak 12.000 tahun SM. Zaman dahulu tattoo semacam ritual bagi suku-suku kuno seperti Maori, Inca, Ainu, Polynesians, dan lain-lain. Jika punya kesempatan jalan-jalan ke Mesir, coba kunjungi salah satu piramid, mungkin bisa ditemukan tattoo tertua di sana. Karena menurut sejarah, bangsa Mesir-lah yang jadi biang tumbuh suburnya tattoo di dunia. Bangsa Mesir dikenal sebagai bangsa yang terkenal kuat, konon gara-gara ekspansi mereka terhadap bangsa-bangsa lain, seni tattoo ini juga ikut-ikutan menyebar luas, seperti ke daerah Yunani, Persia, dan Arab.
Apa alasan bagi suku-suku kuno di dunia membuat Tattoo?
Bangsa Yunani kuno memakai tattoo sebagai tanda pengenal para anggota dari badan intelijen mereka, alias mata-mata perang pada saat itu. Di sini tattoo menunjukan pangkat dari si mata-mata tersebut. berbeda dengan bangsa Romawi, mereka memakai tattoo sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal dari golongan budak, dan Tattoo juga dirajahi ke setiap tubuh para tahanannya. Suku Maori di New Zealand membuat Tattoo berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan bokongnya. Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan Solomon, Tattoo ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti di atas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai Tattoo untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.
Begitulah sejarah, dan cara orang menilai arti sebuah Tattoo – sebuah cara yang harus difikirkan sampai sejauh mana kegunaan dan fungsinya terhadap diri kita.
Kembali kita mencermati tingkah polah pelaku olah raga, selebritis, bahkan mungkin businessman yang mempunyai tattoo dengan alasan “following to trend”.
Bagaimana kita melihat, David Beckham pesepakbola Inggris yang memiliki tubuh nyaris sempurna, dengan potongan rambut yang selalu menjadi trend. Tapi itu mungkin 10 tahun yang lalu, apa yang terjadi sekarang ? Lihatlah tubuh Beckham yang “nyaris habis” dirajah tattoo, mulai dari leher, lengan kiri dan kanan dari atas ke bawah, punggung bahkan sampai ke kaki. Tidak kurang dari 100 tatoo yang dia miliki, apakah kita melihatnya menjadi sebuah keindahan ?.
Tubuh Beckham menjadi gelap membiru, dengan sembulan kuning dan merah dibeberapa tattoo-nya. Victoria Beckham, istrinya, pernah mengatakan pada sebuah media di Inggris, bahwa “..saya akan terus berdoa untuk dia tidak menambah tattoo-nya..”. Demikian candunya Beckham atas seni rajah ini.
Tora Sudiro, Ovi /Rif, Tamara Geraldine, adalah contoh selebritis kita yang mempunyai tatto Masya Allah banyaknya. Mungkin kalau tatto diletakkan pada titik tertentu di bagian tubuh dengan tema yang menarik, akan menjadi sebuah karya seni indah yang ditunggu-tunggu sembulannya.
Tapi apa ? Lihatlah tubuh mereka yang mulai menghitam dan tidak jelas apa lagi nilai seninya, yang ada hanyalah goresan ribuan garis ditanamkan ke jutaan pori-pori, masih terlihat bentuknya ?.
Lalu dimana kebanggan itu ? Jawabannya : Dimana ya ??
Bahkan belakangan terkesan seperti menutup-nutupi tattoo yang ada di tubuhnya, seperti selalu memakai kemeja lengan panjang. Atau celakanya, kita bisa melihat bagaimana Tora yang berperan menjadi guru di film Laskar Pelangi, harus dipoles dengan bedak dan zat warna menyerupai warna kulit untuk menutupi tatoo-nya karena guru yang di-tokohkan harus selalu memakai kemeja lengan pendek. Buang waktu ? Jelas, yang seharusnya dalam waktu 10 menit bisa langsung take adegan, tapi karena si “goresan seni” harus rela di make up lebih dari setengah jam.
Sampai saat ini, demam tatoo masih melanda seluruh dunia, sedikit sekali orang yang tidak memiliki tattoo dalm artian, masih belum rela kulit putihnya di”corat-coret” dengan jarum dan tinta.
Roger Federer (petenis no.1 dunia), John Terry dan Frank Lampard (pesepakbola Chelsea), Steven Gerrard (Liverpool), Tiger Woods, pegolf no.1 dunia, Yao Ming, pebasket Cina, Michaels Phelps, perenang AS – adalah beberapa contoh olahragawan yang sampai saat tulisan ini dibuat tidak memiliki tatoo satupun.
Tom Cruise, Julia Roberts, Brad Pitt, semua personel Westlife, contoh di selebriti dunia yang tidak memiliki tattoo.
Have a principe ! Sebuah kalimat yang tepat !
Hanya prinsip yang bisa mencegah kepemilikan tattoo di tubuh dirinya. Prinsip bahwa memiliki tatoo kalau hanya untuk ikut-ikutan apalah gunanya, memiliki tattoo kalau hanya kesenangan sesaat, kemudian menyesal adalah keterpurukan jiwa. Memililiki tattoo, kalau cuma sebuah sketsa dan tulisan yang suatu saat “basi” karena berkembangnya trend baru, padahal tattoo lama telah menutup sepersekian area luas tubuh, dan keinginan bertattoo masih belum berhenti.
Addicted ! Kecanduan ! Inilah bahaya yang ditimbulkan oleh keinginan bertattoo, setelah memulai, akan sangat sulit sekali untuk berhenti. Bahkan menambah terus..terus..terus..Lalu kapan berhentinya ? Entahlah…
Guinness Book of World Record mencatat Adam Kemp dan Marshall Olsendari Cleveland, Amerika Serikat sebagai pemilik tattoo terbanyak sampai saat ini, dan hebatnya dilakukan dalam satu kesempatan yang memakan waktu 42 jam, 26 menit dan 4 detik. Rekor tersebut dicatat tahun 2007 dan belum terpecahkan sampai sekarang.
Fenomena bertattoo saat ini tidak lebih hanya sekedar trend, seperti orang senang dengan “boy band” yang sangat menjamur, dengan lagu-lagu berkarakter industri, sama sekali tidak berpotensi evergreen.
Lalu, jika trend itu berlalu ?
Dipastikan bahwa banyak sekali pemilik tattoo menyesal, kenapa bertattoo, mau diapakan tattoo ini ? Belum lagi, ada pendapat-pendapat yang menganggap bahwa pemilik tattoo seperti penjahat, pergaulan bebas, masa lalu yang tidak berprinsip, dan masih segunung julukan yang menyakitkan hati…
Sebelum menjadi penyesalan, selalu lakukan setiap tindakan dengan fikiran yang jernih, berfikir jauh ke depan dan selalu minta petunjuk dengan doa..karena dalam doa selalu ada keikhlasan, kebenaran dan kepasrahan…
Pada intinya,
Tubuh, bagi sebagian orang, menjadi media tepat untuk berekspresi dan eksperimen. Tak heran jika kemudian timbul aktivitas dekorasi seperti Tato, Piercing dan Body Painting, eksploitasi ini untuk sebagian besar pelakunya ditujukan untuk gaya dan pernyataan pemberontakan. Jika awalnya orang melakukan eksploitasi tubuh untuk tujuan yang lebih khusus, misalkan untuk identitas pada suatu budaya tertentu, kini eksplotasi tubuh melalu tato, piercing dan body painting berkembang karena mode dan gaya hidup.
Menurut Bruner (1986) Posisi tubuh menjadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis.
Tato adalah gambar atau simbol pada kulit tubuh yang diukir dengan menggunakan alat sejenis jarum. Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk membuat tato. Orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakan dengan mesin untuk mengukir sebuah tato.
Kuil-kuil Shaolin menggunakan gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuh. Menurut Ady Rosa dalam penelitiannya mengenai Eksistensi Tato Mentawai, selama ini diyakini bahwa tato tertua ditemukan di Mesir sekitar tahun 1300 SM. Dari penelitian yang dilakukannya diketahui bahwa Tato Mentawai telah ada sejak 1500 tahun sampai 500 tahun Sebelum Masehi. Jadi bisa dikatakan, tato Mentawai merupakan Tato tertua di dunia.
Tato telah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan merupakan suatu bentuk seni tertua yang memiliki beragam arti seperti halnya budaya yang lain. Pada beberapa kelompok, tato merupakan tanda suku atau status. Selain itu, tato juga bisa menandakan beratnya jalan menuju kedewasaan, atau menunjukkan keahlian si pemilik tato. Salah satu alasan paling populer dan juga paling tua adalah seni tubuh ini menambah keindahan si pemilik. Di dunia Barat, tato biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas seseorang.
Selain menunjukkan individualitas, secara bersamaan tato juga menunjukkan bahwa pemiliknya adalah
anggota sebuah kelompok komunitas yang menyukai seni tubuh. Di Amerika Serikat, tato sempat memberi kesan buruk bagi pemiliknya, walaupun sekarang tato dianggap sebagai bagian dari budaya Amerika.
Tato yang kini banyak menemani kehidupan anak muda di perkotaan ternyata berada dalam kondisi tercerabut dari habitat aslinya, terpelanting di dunia yang sama sekali tidak tahu menahu aturan bagaimana semestinya tato diperlakukan.Sebagian masyarakat modern yang tertarik dengan tato, kemudian menggunakannya semau dan sesuka hati sebagai ekspresi diri. Kesukaan berekspresi dengan menimbulkan kontra dari sebagian lain masyarakat yang berseberangan keyakinan dengan adat lama. Sebagian lain ternyata malah membelokkan kegunaan untuk menandai hal yang negatif, tato menjadi identik dengan kriminalitas.
Fenomena tato bukan dilahirkan dari sebuah tabung dunia yang bernama modern dan perkotaan. Secara historis, tato lahir dan berasal dari budaya pedalaman, tradisional, bahkan dapat dikatakan kuno. Keberadaan tato pada masyarakat modern perkotaan mengalami perubahan makna, tato berkembang menjadi budaya populer atau budaya tandingan yang oleh audiens muda dianggap simbol kebebasan dan keragaman. Akan tetapi kalangan tua melihat sebagai suatu keliaran dan berbau negatif.
Dengan demikian tato akan sangat tergantung pada tiga konteks pemaknaan, yakni kejadian historis, lokasi teks dan formasi budaya. Akibatnya kini budaya pop menjadi seperti lapangan perang semiotik antara sarana inkorporasi dan sarana resistensi, antara pengangkat makna yang diusung, kesenangan dan idetitas sosial yang diperbandingkan dengan yang telah ada.
Tato belakangan ini menjadi mode. Bila semula tato merupakan bagian budaya ritual etnik tradisional, kini berkembang menjadi bagian kebudayaan pop. Pada saat tato tradisional terancam punah, tato yang menjadi bagian kebudayaan pop semakin tertera di tubuh-tubuh manusia modern dan semakin disenangi.
Karenanya tidak perlu heran melihat artis-artis atau kalangan selebritis seperti Ayu Azhari, Becky Tumewu, Jajang C Noer, Karenina, Anjasmara, Cut Keke dan banyak lagi artis lain menjadikan tato sebagai identitas yang melekat pada dirinya. Di Indonesia sendiri pernah ada suatu masa ketika tato dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali, dan orang nakal.
Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat. Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat pengesahan ketika pada tahun 1980-an terjadi pembunuhan terhadap ribuan orang gali dan penjahat kambuhan di berbagai kota di Indonesia. Pembunuhan ini biasa disebut dengan Petrus, neologisme dari kata penembak dan misterius.
Tanggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah atau tato bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tato sebagai sesuatu yang dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto dianggap sama dengan memberontak. Tetapi justru pemberontakan yang melekat pada aktivitas dekorasi tubuh inilah yang membuat gaya pemberontak ini populer dan dicari-cari oleh anak muda. Orang-orang yang terpinggirkan oleh masyarakat memakai tato sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri, anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tato sebagai simbol pembebasan.
Eksistensi tato selama ini dianggap sebagai bagian dari penyimpangan.
Tato masih merupakan bagian dari tindakan yang keluar dari rel-rel kaidah dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pada masyarakat Indonesia, kecuali kota-kota besar, konformitas masih sangat kuat di mana anak muda dianggap normal, ganteng dan alim apabila rapi, bersih tidak ada tato, tak bertindik dan lain-lain. Jika terjadi penyimpangan sedikit saja seperti telinga atau hidung yang ditindik, maka akan mengakibatkan gunjingan dan celaan yang cepat menyebar ke mana-mana. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika gaya-gaya anak muda seperti itu akan cepat-cepat dianggap sebagai sesuatu yang negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar